Landasan Filosofis dan karakteristik Lembaga Keuangan Syariah.

Landasan Filosofis

Ekonomi Islam dibangun atas empat landasan filosofis, yaitu tauhid, keseimbangan, keseimbangan, kebebasan, dan pertanggungjawaban.

  1. Ketauhidan (Unity), Ketauhidan mengandung arti bahwa segala petunjuk (hidayah) adalah berasal dari Allah SWT dan bahwa manusia adalah sama dihadapannya. Manusia pada dasarnya adalah free (khuriyyah) tidak ada perbudakan diantara mereka melainkan hubungan sosial yang mutualisme (manfaat). Hanya Dia yang mengatur segala sesuatunya, termasuk mekanisme hubungan antarmanusia, perolehan rezeki, dan sebagainya (rububiyyah). Oleh sebab itu, manusia harus mengikuti segala ketentuan Allah SWT dalam segala aktivitasnya, termasuk aktivitas ekonomi. Ketentuan Allah SWT yang harus dipatuhi dalam hal ini tidak hanya bersifat mekanistik dalam alam dan kehidupan sosial, tetapi juga bersifat etis dan moral (uluhiyyah).
  2. Keseimbangan (Equilibrium), Keseimbangan dalam islam bukan hanya berarti sama rata tetapi mengandung unsur penerapan nilai positif alias kebaikan (al-adlu wal ihsan). Sehingga tercipta keseimbangan masyarakat yang merata.
  3. Bebas berkehendak (Free will), Dalam hal ini manusia diposisikan sebagai Khalifah dibumi ini bertugas untuk mengatur dan mengelola serta menjaganya. Manusia telah diberi keleluasaan dan opsi (free will) untuk bebas berkehendak. Apakah ia akan memilih jalan kebaikan atau jalan kerusakan. Kaitannya dengan azas LKS adalah pilihan jalan kebaikan yaitu berusaha untuk berinovasi unruk mencapai kesejahteraan.
  4. Tanggungjawab (Responsibility), Artinya sebagai makhluk sosial maka manusia wajib bertanggungjawab terhadap kondisi manusia lainnya dan selalu berkomitmen untuk merealisasikan kesejahteraannya.

Karakteristik

Ada beberapa karakteristik atau ciri yang melekat dalam ekonomi syariah, antara lain:

1)      Berdasarkan prinsip syariah.

2)      Larangan melakukan praktek riba atau bunga. Karakteristik ini melekat pada operasional lembaga keuangan syariah (LKS). Setiap lembaga keuangan yang operasionalnya sesuai dengan syariah harus terhindar dari praktek riba atau bunga. Selama lembaga keuangan tersebut masih mempraktekkan riba atau bunga, maka operasional lembaga keuangan itu belum syariah.

3)      Menggiatkan praktek jual-beli. Karena, riba atau bunga dilarang dalam syariah Islam, maka sebagai solusinya praktek jual-beli dibuka lebar untuk dipraktekkan dalam operasional lembaga keuangan syariah.

4)      Mempraktekkan bagi hasil. Selain jual beli, praktek bagi hasil juga menjadi ciri khas dari praktek ekonomi syariah.

5)      Instrumen zakat. Zakat menjadi satu bagian yang penting dalam ekonomi Islam. Secara syar’i, zakat merupakan bagian kewajiban dan menjadi pilar dalam Islam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: