dilema vaksin meningitis

LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagaimana kita pahami dan ketahui bahwa Ibadah haji merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh yang telah berkemampuan, Q.s. Ali Imran 97. Akan tetapi sekarang ini, kenyamanan dan ketenangan para jamaah haji atau umrah baik yang telah menunaikan, maupun yang akan menunaikan pada tahun depan. Mereka diusik dengan kenyataan bahwa pada proses pembuatan vaksin meningitis menggunakan enzim babi.

Kewajiban vaksin ini berdasarkan Nota Diplomatik Dubes Arab Saudi di Jakarta 1 Juni 2006 dan Internacional Health Regulation 2005 yang memestikan suntik meningitis bagi semua jamaah haji, umrah dan bahkan TKW/TKI yang akan masuk ke Arab Saudi. Bahkan, vaksin merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan visa. Menteri Kesehatan menegaskasn kembali kewajiban jamaah haji dan umrah untuk dilakukan vaksinasi meningitis itu.[1]

Bagi kaum muslimin, tentu saja akan menjadi perhatian yang serius khususnya bagi yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah karena keikhlasan niat dan ilmu manasik tidaklah cukup bila tidak didukung dengan biaya dan hal-hal lain yang halal termasuk obat-obatan dan makanan yang diperlukan. Serta ini akan menjadi permasalahan tersendiri mengenai pemakaian atau penyuntikan vaksin yang menggunakan enzim babi.

Oleh karena itu timbulah permasalahan, apakah dibolehkan pemakaian vaksin meningitis yang menggunakan enzim babi itu sendiri.dan bagaimana hukum dari pemakaian vaksin tersebut. Disini kita bersama akan membahas mengenai permasalahan tersebut.

PEMBAHASAN

A. Apakah Vaksin itu?

Vaksinasi telah menjadi tulang punggung kesehatan masyarakat sejak dulu. Apabila penyakit berjangkit, vaksinasi muncul dalam benak kita. Ia adalah suntikan kesehatan yang dianggap dokter (bahkan lembaga kesehatan negara) sangat penting sebagai pelindung dari serangan penyakit.

Dalam pengertian sederhana, vaksin adalah sejenis kuman yang telah dilemahkan dan  jika dimasukkan ke tubuh manusia melalui suntikan atau diteteskan ke lidah (immunisasi) maka diyakini akan mendapat reaksi berupa terbentuknya antibodi yang merupakan piranti kekebalan terhadap penyakit yang ditimbulkan kuman tersebut atau sejenisnya.[2]

Tujuan dari Vaksinasi itu sendiri adalah meniru proses penularan penyakit alami dengan kaidah tiruan. Vaksin itu sendiri adalah suntikan yang mengandung berbagai jenis racun yang dimasukan kedalam tubuh.

B. Cara Membuat Vaksin

Vaksin dihasilkan dari kuman (atau bagian dari tubuh kuman) yang menyebabkan penyakit. Sebagai contoh vaksin campak dihasilkan dari virus campak, vaksin polio dihasilkan dari virus polio, vaksin cacar dihasilkan dari virus cacar, dll. Perbedaanya terletak pada cara pembuatan vaksin tersebut.

Terdapat 2 jenis vaksin, hidup dan mati. Untuk membuat vaksin hidup, virus hidup dilemahkan dengan melepaskan virus kedalam tisu organ dan darah binatang (seperti ginjal monyet dan anjing, embrio anak ayam, protein telur ayam dan bebek, serum janin sapi, otak kelinci, darah babi atau kuda dan nanah cacar sapi) beberapa kali (dengan proses bertahap) hingga kurang lebih 50 kali untuk mengurangi potensinya. Sebagai contoh virus campak dilepaskan kedalam embrio anak ayam, virus polio menggunakan ginjal monyet, dan virus Rubela menggunakan sel-sel diploid manusia (bagian tubuh janin yang digugurkan). Sedangkan vaksin yang mati dilemahkan dengan pemanasan, radiasi atau reaksi kimia.[3]

Dalam buku The Consumer’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher, pendiri dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan untuk mencegah kerusakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :

Vaksin Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja. Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James)

C. Vaksin Meningitis yang digunakan Jamaah Haji dan Umrah

Pada koran Replubika, dikatakan,”dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Muhammad Nazratuz Zaman Hosen, juga mengakui adanya kesepakatan yang telah dibuat Departemen Agama (Depag) Departemen Kesehatan (Depkes), Majlis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ (MPKS) Depkes, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta MUI Yang menyatakan vaksin ini haram karena kandungan enzim babi. Berdasarkan pengakuan produsen vaksin meningitis, Glaxo Smith Kline (GSK), vaksin meningitis ini menggunakan enzim babi. Karena itu, kami telah menetapkan bahwa vaksin ini haram. Terlebih lagi vaksin yang menggunakan enzim babi ini digunakan untuk menunaikan ibadah haj.(republika. Senin, 8 Juni 09, hal 12)

Perwakilan dari GSK (Glaxo Smith kline) sebagai produsen vaksin meningitis yang digunakan oleh Departemen Kesehatan R.I, Indrawati dan Helen bahwa benar pada awalnya pada proses pembuatan vaksin meningitis (”Old” Mencevax TM ACW 135 Y) menggunakan enzim babi sebagai katalisator dalam proses pembuatannya. Enzim tidak termasuk dari bahan vaksin menigitis. Bahasa sederhananya ketika telah menjadi vaksin meningitis telah dibersihkan atau dipisahkan sama sekali dari unsur babi tersebut dengan sebersih-bersihnya. Jadi vaksin meningitisnya sendiri sudah tidak mengandung unsur babi, tapi tidak lepas dari pengaruh enzim babi.

Penyakit meningitis adalah penyakit menular. Perlu diketahui, sesungguhnya telah jatuh korban meninggal dari jamaah haji Indonesia akibat meningitis, ketika sebelum dilakukan vaksinasi meningitis. Afrika dan kawasan Timur Tengah adalah lokasi berjangkitnya penyakit ini. Sebagaimana dimaklumi, Saudi Arabia selain menjadi salah satu tempat tujuan para TKW/TKI juga merupakan lokasi beribadah haji bagi kaum muslimin. Pada musim haji lebih khusus lagi karena berbagai bangsa berkumpul, termasuk dari Afrika dan jazirah Arab di tempat dan lokasi yang sama, yaitu dikawasan atau tempat-tempat melaksanakan manasik haji.

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri, ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah dan berpindah ke dalam cairan otak.

Sebagai contoh, pada 2000 lalu, sebanyak 14 orang jamaah haji Indonesia tertular penyakit ini. Sebanyak 6 orang dari 14 penderita meningitis tersebut meningal di Arab Saudi dengan penyebab kematian meningitis meningokokus serogrup W – 135. Angka tersebut bertambah pada tahun 2001 menjadi 18 penderita dan enam di antaranya meninggal di Arab Saudi.( Replublika, Jumat 12 Juni 2009)

Meningitis itu sendiri disebabkan oleh virus dapat ditularkan melalui batuk, bersin, ciuman, sharing makan atau sendok, pemakaian sikat gigi bersama dan merokok bergantian dalam satu batangnya.

Tapi kemudian Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan, vaksin meningitis yang bercampur dengan enzim babi haram, seperti fatwa sebelumnya. Tapi, atas nama kedaruratan, MUI memfatwakan vaksin tersebut boleh digunakan jamaah haji dan umrah.

D. Tinjauan Hukum Syar’i Terhadap Vaksin Menengitis

Pada kenyataannya pada pembahasan tentang vaksinasi meningitis yang sekarang sedang terjadi terkandung beberapa kondisi :

  1. Membuat sesuatu yang halal (vaksin meningitis) menggunakan alat (unsur) yang haram (enzim babi).
  2. Alat itu tidak terbawa dengan kata lain telah dibersihkan dari vaksin meningitis.
  3. Menjadikan vaksin meningitis sebagai komoditi (barang yang diperjual belikan).
  4. Jamaah calon haji atau Umrah tidak akan dapat masuk ke Saudi Arabia jika tidak divaksinasi dengan vaksin meningitis yang ada sekarang
  5. Jamaah Haji yang tidak divaksinasi meningitis dapat tertular penyakit yang membahayakan dirinya bahkan sampai mengancam nyawanya.

Kaidah Usul fiqh menegaskan :

الأَصْلُ فِي النَّهْيِ لِلتَّحْرِيمِ

Asal dari setiap larangan itu hukumnya haram

الضَّرُورَةُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

Darurat itu membolehkan hal-hal terlarang

مَا أُبِيحَ لِلضَّرُورَةِ تُقَدَّرُ بِقَدَرِ تَعَذًُّرِهَا

Apa yang dibolehkan untuk kemadaratan diukur dengan ukuran uzurnya.

لاَ حَرَامَ مَعَ الضَّرُورَةِ وَلاَ كَرَاهَةَ مَعَ الْحَاجَةِ

Tidak ada haram bersama darurat dan tidak ada makruh bersama kebutuhan

Ayat alquran dan hadits

Mengenai menyelamatkan kehidupan kaum muslimin diterangkan dalam firman Allah dan sabda Rasulullah saw.

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأْرْضِ لَمُسْرِفُونَ(32)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. Q.s. Al-Maidah : 32

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abdulah bin Umar bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda,”Muslim itu sodaranya muslim, tidak menzaliminya, dan tidak mengabaikannya. Siapa yang dalam kebutuhan sodaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Dan siapa yang membebaskan seorang muslim dari kesulitannya, Allah akan melepaskan kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.’” H.r. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II : 862, Sahih Muslim, IV : 1993, dan Abu Daud, IV : 273.

Kesimpulan :

1. Vaksin meningitis yang pada proses pembuatanya menggunakan enzim babi karena telah menjadi komoditas hukumnya haram

2. Selama belum didapatkan vaksin meningitis atau obat-obatan lain yang halal, untuk jamaah calon haji dan umrah khususnya, berlaku hukum darurat dan diperbolehkan.

3. Belum ditemukan vaksin meningitis yang benar-benar lepas dari murni tanpa keterkaitan dengan vaksin meningitis yang ada.

4.  Wajib bagi umat Islam untuk terus mengupayakan cara lain yang halal


[1] Wawan Shofwan Sholehudin. Hukum Vaksin Meningitis untuk Jamaah Haji. 2009

[2] Toto hermawan. Vaksin antikorupsi. 2008

[3] Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga menurut Psician’s Desk Reference. Dalam Dilema Vaksin _ kampungonline.com™.htm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: